Membina…., Kerja Besar Membangun Peradaban…

Standard

Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani. Karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Q.S Ali-Imran : 79)

Tanggal 16 Maret 2008, seorang penulis menghadiri acara konsolidasi Pembina Rohis se-Kabupaten Bekasi. Peserta yang hadir ditargetkan sebanyak 200. Jadwal yang direncanakan adalah Pk 08.00, tetapi sekitar Pk 09.30 acara baru dapat dimulai, dengan alasan undangan yang hadir sangat sedikit, jauh dari target yang direncanakan.

Ketika Ketua Pelaksana memberikan sambutan, penulis tersebut tersentak, hatinya sangat tersentuh dengan kata sambutannya, yang menceritakan tentang sebuah acara yang di salah satu Televisi Swasta yang menceritakan tentang kondisi anak remaja di Amerika yang sangat memprihatinkan, 10 sampai 20 tahun yang akan datang penjara-penjara di Amerika akan dipenuhi oleh anak-anak remaja. Untuk mengatasi hal itu, Amerika akan membuat metode pembinaan untuk para remaja dengan sistem mentoring, yang sama persis dengan bentuk pembinaan yang biasa dilakukan oleh kita yaitu sistem halaqoh. Maka dibuatlah kebijakan Pemerintah Amerika dengan membuka lowongan para tutor (pembina) dengan mendapat kompensasi untuk para tutor sesuai yang dianggarkan oleh Pemerintah Amerika.

Penulis tersebut tertegun dan berpikir dalam hati. Kalau di sebuah Negara yang notabene non Muslim, jauh dari nilai-nilai agama, sudah mulai melakukan metode pembinaan yang berbentuk mirip dengan halaqoh tarbawi, mengapa kita belum serius dan belum optimal untuk terus melanjutkan manhaj yang mulia ini? Padahal metode ini terbukti efektif telah banyak melahirkan generasi Islam yang unggul, berkualitas dan menjadi Generasi Rabbani.

Amerika saat ini sedang mengalami krisis generasi. Indonesiapun sangat mungkin akan mengalami kondisi yang sama, kehilangan generasi penerus, bahkan kecenderungan itu sudah sering kita dengar, saksikan dan kita baca. Sebuah hasil survey di Yogyakarta tahun 2005, 97,02% Mahasiswanya melakukan hubungan sexual di luar nikah. Liputan SCTV pada tanggal 11 Desember 2005 memberikan data, bahwa 10 – 30% pelaku aborsi adalah remaja. Lalu bagaimana dengan data di tahun 2008?

Tantangan hidup generasi muda Islam ke depan semakin besar, ditambah Ghazwul fikri (invasi pemikiran) semakin menambah panjang deret permasalahan yang dialami oleh generasi muda Islam. “Sesungguhnya yahudi dan nasrani tidak akan rela sampai kalian mengikuti milah (agama) mereka”. (Q.S Al-Baqarah : 120).

Melihat kenyataan ini, tidak ada pilihan untuk kita selain harus kembali bergerak, kembali membangun hamasah (semangat) yang dahulu pernah ada dalam da’wah ini, menghiasi siang dan malam dengan membina, menghidupkan kembali irama harakah da’wah dengan Tarbiyah Islamiyah di ruang-ruang kelas, mushala, masjid dan rumah-rumah


Makna Tarbiyah…
Menurut Imam Baidhawi, Tarbiyah artinya menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaan setahap demi setahap.Abdurahman An Nahlawi berpendapat ada tiga akar kata untuk istilah tarbiyah.

Rabba, Yarbuu. Tumbuh. Tarbiyah menumbuhkan seseorang dari kekanakan ruh, kekanakan akal dan kekanakan jasad menuju kematangan dan kedewasaan masing-masingnya. Ruh yang dewasa, akal yang dewasa dan jasad yang dewasa untuk mematangkan diri, menyikapi masalah-masalah dan mengemban tugas-tugas. Maka tarbiyah adalah sebuah Improvement.

Rabiya, Yurbii. Berkembang. Tarbiyah mengembangkan manusia muslim dalam kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan menjalani kehidupan. Ia dalam tugasnya sebagai ‘abdullah yang beribadah kepada Allah dan sebagai khalifah yang akan mengelola bumi seisinya di-train untuk memiliki kompetensi yang dikembangkan dari potensi-potensi yang telah dikaruniakan Allah kepadanya. Setelah mengajaknya menggali potensinya, ia mengajaknya mengembangkannya. Maka tarbiyah adalah Development.

Rabba, Yarubbu. Memberdayakan. Ia yang telah tumbuh dan berkembang, harus diarahkan untuk berdayaguna. Islam menghendaki agar sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat, paling besar dayaguna dan kontribusinya bagi dunia. Maka tarbiyah adalah Empowerment.

Muhammad Quthb mengemukakan bahwa metedologi Islam dalam melakukan Tarbiyah adalah dengan melakukan pendekatan yang menyeluruh terhadap wujud manusia, sehingga tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikit pun, jasmani maupun rohani, kehidupan secara fisik maupun mental dan segala aktivitasnya di muka bumi ini. Ia bukan model pendidikan yang hendak mematikan potensi atau memandulkan bakat manusia dalam wacana kritik pendidikan kapitalis, proses pematian atau pemandulan.

Muhammad Quthb menggambarkan proses tarbiyah dalam Islam seperti menggesek biola. “Ia (tarbiyah) menganalisis fitrah manusia itu secara cermat, lalu menggesek seluruh senar dan seluruh nada yang dimiliki senar-senar itu, kemudian mengubahnya menjadi suara merdu. Ia juga menggesek senar-senar secara menyeluruh, bukan satu demi satu yang akan menimbulkan suara sumbang dan tak serasi. Tidak pula menggeseknya hanya sebagian dan mengabaikan bagian yang lain, yang meyebabkan irama tidak sempurna dan tidak mengungkapkan irama indah sampai tingkat gubahan yang paling mengesankan”.

Pemahaman ini akan mengantarkan kita betapa substansialnya Tarbiyah Islamiyah. Ust. Anis Mata berkata : “Akan ada waktu kiranya, di mana ummat manusia akan sulit membedakan antara pesona Kebenaran Islam, dengan pesona Kepribadian Muslim. Ya…, itulah Tarbiyah…, satu kata awal yang menyejarah.


Mengapa Harus Membina dan Dibina….?
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengajarkan amal shaleh dan berkata “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S Fussilat :33)

Di suatu hari, ada lima orang pekerja bangunan yang tengah bekerja membuat Masjid. Ketika ditanya tentang apa yang tengah mereka kerjakan, orang pertama menjawab, “Seperti yang Anda lihat, saya mencampur bahan-bahan bangunan”. Orang kedua menjawab, “Saya bekerja mencari uang di sini”. Orang ketiga menjawab, “Saya menyusun batu bata agar menjadi dinding”. Orang keempat menjawab “Saya bekerja membuat sebuah masjid”. Sedangkan orang kelima menjawab, “Saya tengah membangun peradaban”.

Jawaban orang pertama hingga keempat, tidak ada yang salah. Tetapi, jawaban orang kelima menandakan sebuah cita rasa ideal yang membuatnya bersemangat untuk bekerja. Tatkala ia menumpuk batu bata hingga menjadi Masjid, yang terbayang adalah sebuah masyarakat pemakmur masjid yang diliputi oleh keimanan. Mereka mengatur kehidupan dengan semangat Masjid, hingga terbentuklah peradaban baru yang Islami, yang berasal dari Masjid.

Sudahkah terjawab, di relung hati kita mengapa harus membina dan dibina? Kita sedang membangun peradaban, kita memiliki visi untuk mencetak seseorang yang produktif dan mampu menanggung amanah da’wah. Seseorang yang memiliki wawasan ilmiah dengan berbagai disiplin ilmu yang mendukung potensi dan skill dalam berbagai segi, demi mendukung dan mewujudkan akselerasi cita-cita da’wah.


Makna ‘Binaan’ : Mencetak Kader Pengubah Sambil Memulai Perubahan
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang dan jika ada diantaramu seribu orang yang sabar niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu dengan idzin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal : 66)

Kita -membina dan dibina- untuk secara konsisten -mencetak dan dicetak- seabagi kader perubah dan pada saat bersamaan kita memulai perubahan. Itulah Murabbi dan Mutarabbi, dua peran sekaligus yang kita jalani dalam hidup ini. Dengan keyakinan kita bekerja, membawa bahan-bahan dasar tarbiyah, mengelola, mengatur, mengevaluasi hingga menjadikan -mereka dan kita manusia- berkualitas, yang siap mengemban amanah peradaban.


Melejitkan Potensi Akhwat Muslimah
Barang siapa mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnua Kami beri balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan“. (Q.S An Nahl : 97)

Tarbiyah diarahkan Islam kepada kaum lelaki dan perempuan. Semua potensi kemanusiaan harus dilejitkan, dalam rangka untuk mendapatkan kinerja yang optimal. Akhwat Muslimah sebagai separuh anggota masyarakat adalah faktor perubah yang luar biasa. Mereka harus mendapatkan sentuhan tarbiyah yang sempurna, agar segala kebaikan dirinya akan mebawa kontribusi kebaikan bagi masyarakat luas dan Negara. Awal kehancuran peradaban bisa diawali oleh kehancuran kepribadian kaum perempuan, sebagaimana kejayaan sebuah peradaban diawali oleh kekokohan kepribadian kaum perempuan.

Akhwat Muslimah memilki potensi keibuan, dengan itu mereka bisa menjadi ibu bagi bangkitnya peradaban. Mereka memiliki potensi kelembutan dan kehalusan, yang dengan itu akan mampu menciptakan dunia tanpa kekerasan dan keekjaman. Akhwat Muslimah memiliki potensi ketelitian untuk mengurus dan menyiapkan segala renik-renik kebutuhan peradaban Islam, tanpa ada yang terlewatkan. Akhwat Muslimah memiliki kepekaan perasaan, yang dengan itu akan mampu memberikan perhatian istimewa kepada semua kalangan tanpa tersisihkan.

Dengan program tarbiyah yang terencana dengan matang, seluruh potensi Akhwat Muslimah akan bisa dilejitkan dengan optimal. Kita diperlukan, bersama kaum laki-laki Muslim, untuk mengisi berbagai peran sejarah yang telah mulai terbuka atas idzin Allah. Akhwat Muslimah akan sanggup berkata lantang kepada dunia, kamilah pembuka peradaban gemilang!

Itulah Arti, fungsi dan sekaligus keuntungan yang baru sedikit tergambarkan ketika kita menjalani peran menjadi Murabbi dan Mutarabbi dalam kerangka tarbiyah.

Malaikat, penduduk langit dan bumi, sampai semut-semut di lubang dan ikan-ikan di lautan memohonkan rahmat-Nya bagi manusia yang mengajarkan kebaikan


Belajar Menuju Kesuksesan Membina …
Sungguh jika seseorang mendapat hidayah dengan tangan engkau, itu lebih baik dari Unta Merah”. (HR. Bukhori)

Mengutip tulisan dari seorang Qiyadah Da’wah, tentang rahasia kesuksesan Tarbiyah Islamiyah :

Istiqomah.
Keistiqomahan ini meliputi istiqomah dalam hidayah, keikhlasan, ketaatan dan kesabaran. Karena Tarbiyah Islamiyah adalah proses Madal hayah (sepanjang hidup).

Indhibat bil Mas’uliyah.
Disiplin dan Tanggung Jawab. Tanggung Jawab ini berangkat dari kesadaran akan amanah da’wah, semakin disiplin dan bertanggung jawab terhadap da’wah, semakin Allah memudahkan segala urusan. “Dan bersabarlah, karena Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Q.S. Hud : 15)

At Takamuliyah Fii ad Daur at Tarbawi.
Totalitas Dalam Peran Tarbiyah. Selain memberikan materi, pada saat yang bersamaan dia juga harus menjadi seorang syeikh dalam memelihara dan meningkatkan ruhiyah dan ma’nawiyah anggotanya. Ia mampu menjadi Ayah atau Ibu dan mampu membimbing untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Kesempurnaan peran inilah yang kemudian membuat Allah dan Rasulullah demikian mencintai dan membanggakan peran seorang da’i.

Selain tiga hal tersebut, ada satu hal penting yang tidak boleh terlewatkan, dia adalah cinta. Bermodal kekuatan Cinta. Seberat apapun kerja takkan terlontar kata tidak bisa, tak ada keluh apalagi putus asa bagi para pecinta, cinta telah menjadikannya bertenaga, kerja besar menjadi rasional. Cinta ini pula yang mengikat hati Mutarabbi kita. Andai fanatisme cinta pada makhluk mendatangkan keajaiban, apatah lagi cinta pada Kholiq sungguh lebih dahsyat dan mengagumkan.

Cinta Rasulullah pada Ar Rahman, kekuatan beliau pada kebenaran serta kasih dan sayang beliau pada problem keummatan menjadi modal besar sebuah kejayaan. Cinta tersebut terwarisi kepada para sahabat, tabi’in dan generasi penerus mereka para da’I dan murabbi. Berbekal Al Qur’an dan semangat cinta mereka lecut kuda-kuda mereka menuruti langkah mengungkap rasa cinta dan berbagi bahagia kepada semua umat manusia.

Tidak terlontar kata lelah, tiada kelesuan juga tiada kata kebosanan bahkan bahagia kian hari kian memuncak. Tidak ada satupun halangan yang bisa menghambat langkahnya untuk mengungkap cintanya. Hari ini, esok dan yang akan datang, sepanjang zaman ummat manusia masih butuh sentuhan cinta sang da’i murabbi.



Do’a…
Kuatkan kami Ya Allah…, dalam menunaikan pekerjaan besar ini…, dalam melaksanakan tugas-tugas nubuwah ini. Melakukan tarbiyah, membentuk kepribadian manusia, mutarabbi kami, agar sesuai kehendakMu. Engkaulah yang membuka hati kami dan hati mereka. Engkaulah yang menerangi jiwa kami dan jiwa mereka. Engkaulah yang melapangkan hati kami dan hati mereka.

Kami hanyalah hambaMu, pesuruhMu, pelaksana amanahMu. Di tanganMu, kau genggam keberhasilan kerja kami mentarbiyah.

Berapa pun usaha telah kami lakukan, tetaplah bukan di tangan kami kunci terbukanya hati mereka, mutarabbi kami. Apa pun variasi metode dan materi kami, dari sisiMulah hasil kerja kami peroleh.

Ya Allah, hanya inilah sebesar-besar usaha yang mungkin kami lakukan, untuk mengajak menusia berbondong-bondong menuju ridha dan syurgaMu. Kami berharap curahan kasihMu senantiasa menyelimuti kami, agar tidak mudah dikecewakan oleh realitas obyek da’wah dan tidak mudah berputus asa dari rahmatMu lantaran lelahnya menunaikan pekerjaan besar ini. Ya Allah, berikan kekuatan iman, kesejukan pikiran, agar tidak pernah bosan kami memenuhi hari-hari membersamai matarabbi kami dalam meniti jalanMu. Amin.


















Kamis, 26 Juni 2008
Kampus yang Memberikan Banyak Tempaan Tarbiyah dalam Perjalanan Hidup ini. Teriring hormat bagi Murabbiyah, Muttarabbiku serta Saudara Saudari Tercinta yang telah Mengajarkan Keikhlasan di setiap Jejak Langkah Meniti Jalan Da’wah ini …

Diri yang senantiasa penuh dengan Kekhilafan ….
Wallahu’alam Bishowab.



Maraji’:
1. Refleksi Diri Seorang Murabbi, Cahyadi Takariawan.
2. Menjadi Murabbiyah Sukses, Cahyadi Takariawan dan Ida Nur Laila.
3. Tarbiyah, Solusi Tepat Menyelamatkan Generasi. Tatsqit Edisi Ke 32.
4. Tarbiyah Menyejarah. Saksikan Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah.
5. Membina Dengan Cinta. Deputi Kaderisasi DPW PKS DKI Jakarta.
6. Kekuatan Sang Murabbi. Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy.

Comments are closed.